Peer-reviewed veterinary case report
Chihuahua puppy vomiting and bloody diarrhea from parvovirus infection
By Saweng, Cikal Farah Irian Jati et al.·Published in Indonesia Medicus Veterinus·2022·View original on Crossref →
PetCaseFinder translated the abstract of this peer-reviewed paper into plain English so pet owners can read it. We do not publish original research — every detail traces back to the citation above. How we work →
Original publication title: Laporan Kasus: Infeksi Canine Parvovirus pada Anjing Chihuahua yang Tidak Di-booster
- Species:
- dog
Plain-English summary
A 5-month-old female Chihuahua was brought in for vomiting, bloody diarrhea, and refusal to eat or drink. The puppy showed signs of dehydration and had pale mucous membranes, which led to a diagnosis of canine parvovirus (CPV-2) after a positive test result. Treatment included intravenous fluids, antibiotics to prevent secondary infections, and medications to control vomiting. After seven days of supportive care, the puppy began to recover and returned to normal by day five.
People also search for: Chihuahua vomiting bloody diarrhea treatment · canine parvovirus symptoms · puppy dehydration care
Abstract
Virus parvo anjing atau Canine Parvovirus (CPV-2) merupakan salah satu agen penyakit yang disebabkan oleh virus. Infeksi virus ini dapat diderita oleh anak anjing yang tidak divaksin secara lengkap antara usia enam minggu hingga enam bulan. Anjing kasus merupakan anjing ras chihuahua berumur lima bulan, berjenis kelamin betina, dengan bobot badan 2 kg, diperiksa dengan keluhan muntah, diare berdarah, serta tidak mau makan dan minum. Pemeriksaan klinis menunjukkan membran mukosa pucat, mukosa hidung yang kering, turgor kulit lambat, dehidrasi, diare bercampur darah yang beraroma khas, muntah, dan terdengar suara borborigmi usus yang meningkat, serta ditemukannya infeksi caplak pada kulit. Hasil pemeriksaan hematologi menunjukan anjing kasus mengalami leukopenia. Hasil pemeriksaan test kit canine parvovirus (CPV) menunjukkan hasil positif dan didiagnosis terinfeksi canine parvovirus (CPV-2). Penanganan dilakukan dengan pengobatan secara suportif dan simptomatik. Pemberian terapi cairan diberikan secara intravena berupa ringer lactate dan untuk mencegah infeksi sekunder diberikan antibiotik cef otaxime (50 mg/kg IV, BID, selama lima hari). Terapi simptomatik diberikan obat antiemetik maropitant citrate (1 mg/kg SC, SID selama lima hari), sedangkan terapi suportif diberikan hematodin (0,2 mL/kg IV, SID, selama tiga hari), dan obat herbal Yunnan Baiyao (1 kapsul sehari, PO, selama lima hari) untuk meminimalisir peradangan dan pendarahan pada usus. Perawatan berlangsung selama tujuh hari dan anjing kasus menunjukkan proses kesembuhan dalam waktu empat hari. Anjing kasus kembali normal setelah hari ke lima.
Find similar cases for your pet
PetCaseFinder finds other peer-reviewed reports of pets with the same symptoms, plus a plain-English summary of what was tried across them.
Search related cases →Original publication on Crossref: https://doi.org/10.19087/imv.2022.11.4.594